MORFOLOGI

1.1.  Struktur dan Komposisi

Bryopsis cortisulans adalah suatu alga yang berbentuk bulu yang indah. Seperti siphonous alga hijau ( ordonya Caulerpales, Cladophorales, Dasycladales), tapi yang tidak dimilikinya seperti bryopsis corticulans yaitu dinding sel yang melintang dan (berdasarkan pembagian sitoplasma) organel dan inti sel di dalam thallusnya. Bryopsis bersifat uniselluler tetapi memiliki banyak inti sel (coenocytic)

Bryopsis corticulans memiliki warna hijau kehitaman dengan thallus bagian atasnya memiliki struktur sangat sederhana (telanjang) dan percabangan atasnya menyirip. Thallus Bryopsis ini memiliki vakuola yang melalui garis melintang di pusat thallus. Vakuola adalah membran yang dibatasi dan didukung oleh cytoskeleton dari aktin dan filamen mikrotubulus. Dengan begitu kloroplas dan organelnya dipaksa untuk bergerak di daerah sempit antara membran dan vakuola. Kita dapat melihat kloroplas dengan jelas di gambar dengan pembesaran 200X (kloroplas telah didorong keluar ke bagian yang sempit antara vakuola dan membran).

Bryopsis merupakan alga hijau, karena ia mempunyai butir hijau daun (klorofil a dan b) yang memberinya warna khas hijau. Seperti halnya beberapa pigmen yang mencakup karoten dan xantin. Selain warna hijau yang terdapat di dalamnya. Kloroplas memiliki phyrenoid. Meskipun fungsi dari phyrenoid belum jelas. Bryopsis memilki membrane eksternal yang sangat tipis yang tersusun dari pektin dan selulosa.
Morfologi khusus Bryopsis corticulans : “ Dapat menyembuhkan lukanya sendiri ”
Dikarenakan Bryopsis uniselluler, jika terjadi kerusakan pada bagian tubuhnya maka bisa berakibat sangat fatal bagi keseluruhan selnya, contoh pada saat sel terpotong maka semua sitoplasmanya keluar dari sel tersebut. Suatu sel multiselluler bisa menempatkan luka itu pada satu atau beberapa sel, tetapi Bryopsis tidak memiliki pilihan seperti halnya organisme multiselluler. Beruntungnya, Bryopsis seperti anggota lain dalam familinya dapat menyusun dirinya ketika selnya rusak (robek, terpotong). Ketika membrannya robek maka factor (protein khusus, organel, dan kloroplas) pada bagian luka tersebut akan terkumpul lalu menutup diatasnya. Dalam 15-20 menit disekitar bagian luka itu terbentuk selaput penutup yang tersusundari polisakarida dan lipid. Lalu membran sel dan dinding sel yang selanjutnya terbentuk disekitar kumpulan itu. Proses ini terlihat seperti pada pembekuan darah pada manusia ketika terpotong.

  1. EKOLOGI

2.1  Distribusi

Bryopsis corticulans pertama kali diidentifikasi di Monterey CA tahun 1898 oleh William Setchell. Alga ini ditemukan di sepanjang pantai barat Amerika Utara di pulau Vancouver, Columbia Britania, dan dari Canada sampai Baja California. Meskipun demikian pada umumnya ditemukan di sekitar Monterey. Spesies Bryopsis lainnya Bryopsis (Hypnoides) adalah juga ditemukan sepanjang pantai barat Amerika, berkisar antara Canada sampai Panama.

2.2. Interaksi antar Organisme

Bryopsis corticulans tumbuh antara 1,5 – 2 kaki dan memiliki pertahanan kimia didalam tubuhnya sehingga melindungi tubuhnya dari berbagai ikan pemangsa.

Bryopsis corticulans bisa menjadi rumah bagi plankton yang sangat kecil seperti diatom, walaupun biasanya diatom ditemukan juga pada sebagian besar alga. Tidak hanya menjadi rumah untuk beberapa organisme, tapi juga hidup secara epifit pada alga coklat (Egregia). Epifit tidak mengambil keuntungan dari metabolisme inangnya. Bryopsis hanya menggunakan inangnya sebagai tempat untuk hidupnya, yang ditemukan hidup secara epifit hanya spesies dari bryopsis tropis pada alga coklat tropis. Belum diketahui pada spesies yang bukan tropis lainnya.

  1. PERKEMBANGAN HIDUP

Bryopsis diketahui bisa melakukan reproduksi secara seksual maupun aseksual, dalam berbagai referensi hal ini telah dibicarakan bahwa reproduksinya hanya secara seksual tanpa bentuk hidup spora (tidak ada sporofit diploid). Meskipun demikian dari beberapa literature disebutkan bahwa secara garis besar seluruh masa hidup seksual Bryopsis nampak ditemukan bentuk hidup spora pada spesies bryopsis tropis, lihat gambar diatas).

3.1.  Reproduksi Seksual

Reproduksi seksual adalah diplohaplontic yaitu organisme peralihan antara generasi gametofit yang haploid and generasi sporofit yang diploid.

Pada Byopsis, gametofit lebih besar ukurannya daripada sporofit dan hanya memiliki satu set kromosom yang haploid (I N). saat bereproduksi, kloroplas akan berkumpul pada pangkal caangnya karena itu pangkal percabangannya akan mulai membengkak, bentuk sumbat ini sangat efektif untuk menguraikan sitoplasma dicabang dalam thallus utana. Hal ini akan efektif untuk menutup transportasi dari kloroplas, nukleus dan organel tertentu dan memisahkan percabangannya. Lalu cabang khusus ini menjadi gametangia, tempat menghasilkan gamet (proses gametogenesis). Setiap gametangium akan menghasilkan salah satu gamet haploid (jantan atau betina). Gametangia jantan dan betina dihasilkan oleh induk yang sama (monoecius).

Bryopsis melakukan anisogami, artinya diproduksi gamet motil yang ukurannya tidak sama (gamet betina tiga kali lebih besar dibandingkan gamet jantan). Kedua gamet berbentuk seperti buah pir dan mempunyai dua flagella yang sama panjang. Gamet jantan mempunyai ukuran mitokondria yang sangat besar, yang mengisi sebagian besar volume sitoplasma, sedangkan gamet betina mempunyai ukuran mitokondria yang kecil dan sebuah kloplas yang besar dengan bintik mata didalamnya.

Untuk pembuahan diluar tubuh, gamet dikeluarkan kedalam air laut, karena bryopsis merupakan alga monoecious (kedua gametangia jantan dan betina dihasilkan oleh induk yang sama). Gamet jantan dan gamet betina dilepaskan pada waktu yang bersamaan dan sering pula terjadi pembuahan gametdari induk yang sama dihasilkan tumbuhan homothallus. Pembuahan gamet akan menghasilkan dua set kromosom zigot yang diploid (2 N) yang akan berkembang menjadi gametofit (makrothallus, 1N) yang kemudian terjadi pembelahan meiosis dan mitosis atau sporofit (mikrothallus, 2N).

Sporofitnya tidak terlihat seperti gametofit, tapi lebih seperti benang filament pada sel. Setelah itu terjadi pembelahan mitosis dan selanjutnya pembelahan meiosis, sporofit menghasilkan dan melepaskan banyak zoospora (spora yang memiliki flagella) yamg haploid dan akan berkembang menjadi gametofit baru (kira-kira sekitar 50% jantan dan 50% betina). Lalu siklus inipun akan dimulai lagi dari tahap awal.